Dolar AS sedikit melemah pada Selasa (6/2), namun masih tidak jauh dari level tertingginya dalam tiga bulan, sementara dolar Australia menguat setelah bank sentral mengatakan kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Reserve Bank of Australia (RBA) pada hari Selasa mempertahankan suku bunga tidak berubah, namun memperingatkan kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut.
Terkait itu investor terus menunda spekulasi penurunan suku bunga pertama RBA pada bulan Agustus, dibandingkan bulan Juni, dengan para ekonom yang disurvei oleh Reuters juga memperkirakan bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga hingga paruh kedua tahun ini.
Aussie naik 0,35% menjadi $0,6505, menjauh dari level terendah 2,5 bulan di level $0,6469 yang disentuh pada hari Senin. Dolar Selandia Baru naik 0,13% menjadi $0,6063.
Dolar Aussie biasanya berkorelasi kuat dengan saham Tiongkok, karena Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Australia.
Saham-saham Tiongkok mencatat kenaikan satu hari terbesar sejak tahun 2022 pada hari Selasa dan yuan menguat di tengah sinyal bahwa pihak berwenang memperkuat tekadnya untuk mendukung pasar yang merosot.
Serangkaian data ekonomi AS yang kuat dan pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell telah mematahkan spekulasi penurunan suku bunga yang lebih awal dan tajam serta mendukung dolar.
Para pedagang telah mengurangi spekulasi penurunan suku bunga sejak awal tahun ini dan saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga hanya sebesar 16% pada bulan Maret, menurut alat CME FedWatch, dibandingkan dengan peluang sebesar 69% pada awal tahun.
Mereka juga memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 115 basis poin (bps) pada tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan pelonggaran sebesar 150 basis poin (bps) pada awal Januari.
Untuk indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang lainnya, turun 0,11% menjadi 104,34, setelah menyentuh 104,60 kemarin, level tertinggi sejak 14 November. Indeks tersebut naik 3% untuk tahun ini, setelah turun 2% pada tahun 2023.
Sementara euro naik 0,16% pada level $1,0761%.
Investor akan fokus pada survei ekspektasi konsumen ECB, yang akan dirilis pada sesi ini, yang dapat memberikan petunjuk mengenai proses disinflasi yang mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan.
Sterling terakhir diambil $1,2558, naik 0,18% hari ini, namun tetap mendekati level terendah tujuh pekan pada hari Senin.
Penurunan pound kemarin terjadi walau ada beberapa data ekonomi yang optimis. Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Inggris kemungkinan jauh lebih rendah pada akhir tahun lalu dibandingkan perkiraan sebelumnya, yang dapat mendorong penurunan suku bunga di Inggris juga.
Yen Jepang menguat hari ini di level 148,57 per dolar, namun tidak jauh dari level terendah dua bulan di 148,90 yang dicapai kemarin.
Upah riil Jepang turun selama 21 bulan beruntun, meskipun dengan laju yang lebih lambat, sementara belanja rumah tangga turun selama 10 bulan beruntun, ini menunjukkan bahwa inflasi melampaui pemulihan upah dan terus membebani belanja konsumen.(yds)
Sumber: Reuters
