Menurut data yang dirilis pada hari Rabu (18/10), perekonomian Tiongkok tumbuh sedikit lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal ketiga, seiring dengan berlanjutnya stimulus moneter serta peningkatan konsumsi lokal membantu mengimbangi lemahnya permintaan luar negeri serta gejolak pasar properti.
Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,9% pada tingkat tahunan dalam tiga bulan hingga 30 September, menurut data dari Biro Statistik Nasional. Angka tersebut lebih besar dari ekspektasi sebesar 4,4%, namun lebih lemah dibandingkan angka kuartal sebelumnya sebesar 6,3%.
Secara triwulanan, PDB tumbuh sebesar 1,3% pada triwulan ketiga dibandingkan triwulan kedua, mengalahkan ekspektasi pertumbuhan sebesar 1%, dan meningkat dari pertumbuhan 0,8% yang terlihat pada triwulan sebelumnya.
Angka tersebut muncul setelah pemerintah Tiongkok meluncurkan sejumlah langkah stimulus moneter selama tiga bulan terakhir, terutama penurunan suku bunga serta suntikan likuiditas berkelanjutan oleh Bank Rakyat Tiongkok (PBoC).
Belanja dalam negeri terlihat meningkat sepanjang kuartal ini, sementara kontraksi pada aktivitas manufaktur tampaknya telah mencapai titik terendahnya. Namun belanja konsumen masih jauh di bawah tingkat sebelum COVID, dengan Tiongkok sempat tergelincir ke wilayah disinflasi pada awal kuartal ini.
Gejolak di pasar properti juga membebani pertumbuhan, terutama karena penjualan rumah masih lemah dan pengembang properti terbesar di Tiongkok menghadapi gagal bayar dalam skala besar.
Bisnis lokal juga kesulitan dengan lemahnya permintaan luar negeri, karena kondisi ekonomi di mitra dagang terbesar Tiongkok yang memburuk pada tahun ini. Investasi modal asing di negara ini juga tampaknya telah berkurang pada tahun ini, sementara belanja modal tetap mengalami penurunan yang berkelanjutan selama kuartal terakhir.
Namun, indikator-indikator ekonomi lainnya menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada bulan September, dengan produksi industri dan penjualan ritel tumbuh lebih besar dari perkiraan pada bulan tersebut.
Meskipun Tiongkok mencatat pertumbuhan PDB yang lebih kuat dari perkiraan pada dua kuartal pertama tahun 2023, tren ini mayoritas didorong oleh rendahnya dasar perbandingan pada tahun 2022. Pertumbuhan kuartal-ke-kuartal masih lemah pada tahun ini.
PDB tahunan diperkirakan sebesar 5% oleh pemerintah, angka yang secara luas dianggap konservatif oleh para analis. Jajak pendapat Reuters baru-baru ini juga menunjukkan bahwa tren PDB mungkin berada di bawah level tersebut.(yds)
Sumber: Investing.com
